Monday, September 21, 2009

Cintaku Tersangkut di Buku

Ada orang yang berkata bahwa, toilet adalah tempat yang ajaib. And yeah, it is! Aku setuju dengan pernyataan itu, karena sewaktu tadi aku di toilet, muncullah sebuah kalimat (yang ada pada judul) yang pada akhirnya menghasilkan sebuah cerita pendek berikut ini.
***
 Aku hanyalah seorang perempuan biasa yang sangat menyukai buku. Jam demi jam ku habiskan di perpustakaan langgananku di jalan bebek. Aku sudah berlangganan di sana selama 2 tahun. Aku suka perpustakaan itu  karena sang penjaga perpustakaan tersebut sangatlah ramah dan suka tersenyum. Dan di sanalah petualanganku di mulai.




Petualanganku dimulai dari sebuah buku berjudul “Darimanakah cinta berawal?”. Ketika itu, aku yang belum pernah merasakan cinta berniat meminjam buku itu. Di rumah, aku membaca lembar demi lembar yang ada. Sampai ketika aku tertegun melihat secarik kertas yang terselip di sana.
Ku buka dan ku baca isinya, rangkaian kata-kata yang berbentuk puisi yang sangat indah tertulis di sana. Puisi tanpa nama itu, membuatku sangat penasaran akan sang penciptanya. Ku ambil kertas itu lalu ku simpan baik-baik di kamarku. Dan entah mengapa, sejak saat itu sudah berkali-kali aku menemukan puisi-puisi serupa yang semakin hari semakin terpana dibuatnya.
***
“Ya ampun, lo kan tinggal cek sama si penjaga perpus, siapa orang yang meminjam buku itu sebelum lo?”, saran Noni, sahabat terbaikku di sekolah.
“Udah kaleee. Lo pikir otak gue sebuntu itu sampe-sampe gak bisa mikir kayak gitu??”
“Lah terus? Beres kan?”
“Ya belom lah,Non! Kalo udah beres, masa sampai sekarang gue masih uring-uringan kayak gini sih? Karna waktu gue cek, si peminjam buku sebelum gue itu beda-beda orangnya!!”
“Hah?? Yakin lo beda-beda? Jadi yang suka nyelip-nyelipin kertas kayak gitu ada banyak orang?? Atau dia gak mau ada yang tahu maka dari itu dia memiliki banyak ID?”
Aku sudah tak tahu lagi harus menjawab apa. Aku hanya bisa mengangkat bahu untuk menjawab pertanyaannya. Aku rasa, aku memang harus diam di sana sambil membantu Pak Tanto bekerja di perpustakaan.
***
Sepulang sekolah aku memutuskan untuk langsung ke sana. Dengan langkah yang sangat semangat, aku berjalan menuju perpustakaan. Aku ingin menyatakan niatku kepada Pak Tanto, dan aku berharap dia mau membantuku dengan memperbolehkanku membantunya di sana. Karena tentunya, pekerjaan Pak Tanto pun akan menjadi lebih mudah.
Seharian sudah aku di sana, rasanya badanku sudah sangatlah pegal. Di pijit oleh bibi lalu tidur adalah kegiatan yang pasti sangat menyenangkan. Perpustakaan sudah hampir tutup ketika tiba-tiba seorang laki-laki  yang kira-kira 3 tahun lebih tua dariku dan berpenampilan sporty, masuk dengan tergesa-gesa. Dia berniat mengembalikan buku, ketika aku melihat buku itu, aku tersenyum, tentang cinta! Aha! Mungkinkah dia orangnya?
Buru-buru ku ambil buku itu, dan ku larang dia untuk pergi. Aku membalik lembar demi lembar dengan cepat, sampai ketika aku berhenti karena melihat kertas yang ada di sana. Ku ambil dan ku buka, ini dia yang aku cari!!
“Apakah kertas ini milikmu?”, tanyaku langsung tanpa basa-basi.
“Kertas? Oh.. Kertas itu? Sewaktu aku meminjamnya memang sudah ada di sana, jadi ku biarkan itu tetap di sana.”, jawab pemuda itu santai, “Apakah aku sudah boleh pergi?”
“Oh sudah anak muda, silakan. Terima kasih.”, ucap Pak Tanto sambil memberikan senyum termanisnya. “Apakah kamu baik-baik saja?”, tanya Pak Tanto khawatir.
Aku kecewa. Aku sudah lelah berada di sini seharian tetapi aku tidak mendapatkan informasi apapun! Aku pamit pulang kepada Pak Tanto, wajahnya terlihat sangat khawatir. Dia menawarkanku tumpangan, tapi aku menolaknya. Aku sedang ingin sendiri. Ternyata rencana seperti ini pun tidak berhasil.
***
“Gimana? Udah ketemu sama pangeran lo itu?”, tanya Noni dengan gaya bicaranya seperti biasa yang selalu ceplas-ceplos. “Duh.. Kok diem sih? Belum ketemu ya? Sabar ya. Jangan cemberut gitu donk, gue kan jadi ikutan sedih. Senyum ya? Ya? Ya?”, rayu Noni.
Rayuannya tidak berhasil kali ini. Karena aku benar-benar tidak ingin tersenyum sama sekali. Aku sedang berpikir keras tentang rencanaku selanjutnya. Cara yang semoga akan menjadi cara terampuh untuk menemukan dia.
***
Aku memasuki perpustakaan dengan langkah penuh harapan. Aku mengambil beberapa buku yang sewaktu ku pinjam ada selipan kertas romantis itu. Aku mencari tempat kosong, mengeluarkan buku dan pensilku. Lalu ku mulai membuka satu per satu buku yang ada di hadapanku dan mencatat semua ID yang pernah meminjam buku tersebut.
Setelah selesai semua, aku merapikan kembali buku-buku tersebut dan langsung kembali ke meja tersebut dan melihat satu per satu ID yang ada. Lalu aku menemukan kecocokan untuk beberapa ID yang pernah meminjam semua buku itu.
Aku meminta nama dan alamat lengkap dari semua ID yang ku duga salah satunya adalah penulis puisi-puisi indah tersebut. Setelah mendapatkan semuanya, aku merasa senang dan tiba-tiba semangatku naik drastis.
Aku melangkah keluar dengan sangat gembira, lalu aku melihat semua nama-nama yang tertera di kertas pemberian Pak Tanto. Namun semuanya adalah perempuan dan hanya tiga orang laki-laki. Apakah Tuhan memberikan kemudahan bagiku sehingga aku bisa langsung menemukannya? Karena aku yakin si penulis itu pastilah seorang laki-laki.
Aku buru-buru mengunjungi alamat laki-laki yang pertama. Namun, laki-laki itu berkata bahwa dia juga kagum pada si penulis puisi tersebut, namun dia tetap menyelipkannya di sana agar dapat di baca oleh orang lain. Langkahku mulai lesu, menuju rumah kedua yang letaknya kebetulan tak begitu jauh dari sana. Aku mulai menyemangati diriku sebelum aku menekan bel dan bertanya. Ternyata, semuanya tetap berujung pada kenihilan. Tinggal satu harapanku, itu semua mengecilkan niatku untuk tetap melanjutkannya. Sehingga aku memutuskan untuk kembali ke rumah dan meneruskannya besok siang.
***
Aku hanya dapat berdoa, semoga laki-laki terakhir ini adalah si penulis puisi tersebut. Aku berharap, Tuhan mendengarkan doa-doa ku untuk menemukan si penulis yang sudah menarik perhatianku ini.
Ketika aku sudah melangkah penuh semangat, dewi fortuna masih juga belum berpihak kepadaku. Alamat terakhir ini adalah alamat laki-laki yang beberapa waktu lalu ku temui  di perpustakaan.
Aku kembali menatap susunan nama yang ada. Apakah aku harus mengunjungi semuanya? Dan entah datang semangat dari mana yang tiba-tiba membuatku ingin mengunjungi semuanya. Aku mencoba berpikir positif, siapa tahu orang tersebut memakai nama samaran? Atau mungkin nama ini adalah nama kakak atau adiknya.
Nama demi nama, rumah demi rumah, sudah ku datangi dan ku tanyakan. Hasilnya tetap NIHIL!!! Aku yang mulai putus asa menelepon Noni. Semoga anak itu bisa memberikan aku semangat hari ini.
“Non, gue udah putus asa nih. Gue udah muter-muter nyariin itu penulis, gak ketemu juga sampai sekarang.”
“Jangan sedih gitu donk!! Kayak bukan temen gue aja lo! Temen gue itu orangnya bersemangat dan gak pernah putus asa! Ayo donk bangkit. Masa Cuma karena kayak gini aja lo sedih sih? Emangnya udah semuanya lo datangin?”
“Yaa.. Belom sih, Non. Tapi sampai sekarang, udah setengah lebih gue kunjungin gak juga ketemu. Gue kan capek!”
“Lho? Dari awal kan lo yang mau? Dari awal kan lo yang bilang pengen berusaha mati-matian untuk ketemu si penulis?”
“Ya iya Non, tapi kalo dia itu cewek gimana??”
“Ya.. Kalo cewek, lo ajakin aja dia temenan dan minta dia ajarin lo bikin puisi supaya lo bisa dapetin cowok-cowok dengan puisi lo itu!! Kan keren!”, ujarnya santai.
“Ahh.. Mana bisa gitu? Pokoknya gue tetep yakin kalo yang nulis itu pasti cowok!! Tulisannya aja tulisan ala cowok! Mana ada cewek tulisannya agak berantakan seperti itu?”, ucapku masih membela diri.
“Nah, ya udah kalo gitu sekarang sana cari lagi sampe semuanya udah lo kunjungi! Gue mau mandi dulu ya. Daaahhh..”
Aku mematikan telepon dan kembali memandang secarik kertas puisi itu. Aku masih yakin, kalau kamu itu cowok, ujarku dalam hati. Semangatku kembali timbul dan aku berjalan menuju rumah selanjutnya. Di rumah itu, keluarlah seorang gadis cantik, berkulit putih, dan berambut panjang. Dia tersenyum ramah padaku dan bertanya apa maksud kedatanganku.
Aku mengutarakan maksud kedatanganku dan dengan sangat ramah ia mempersilakan aku untuk masuk.

Rumah yang sangat sederhana, namun tertata rapi sekali. Semua barang ada pada tempatnya masing-masing, suasana nya nyaman dan damai. Perempuan bernama Astri itu bertanya, dari manakah aku bisa sampai di sini. Dan dia cukup terkejut dengan penjelasanku. Aku berharap dia tahu siapa penulis puisi-puisi ini dan aku pun berharap bukan dia lah orangnya.
Dia terdiam dalam waktu yang cukup lama. Aku bingung, dan memulai pembicaraan.

“Hmm.. Jadi, apakah kamu tahu siapakah penulis puisi-puisi indah ini?”
“Kenapa kamu sampai berbuat demikian untuk mencari penulis itu?, tanya Astri. Dia tak menjawab pertanyaanku namun dia bertanya balik.
“A.. Aku.. Aku kagum pada puisi-puisi ini. Kekagumanku yang membawa aku hingga ke sini. Dan aku mohon, jawab pertanyaanku, kamu tahu kan penulisnya? Siapa dia?”
Dia masih terdiam, ada sinar kesedihan di raut mukanya. Aku menjadi semakin penasaran. Lalu dia mengajakku ke salah satu kamar di sana. Tipikal kamar cowok, sudah pasti bukanlah kamarnya. Astri membuka laci meja, dan mengambil sebuah diary yang sudah tersobek setengah dari isinya.
“Puisi-puisi itu berasal dari sini.”, ucap Astri dan menyerahkan diary itu kepadaku. Dengan melihat kertasnya pun aku yakin memang dari sinilah asal kertas-kertas itu. Aku membaca kata-kata yang masih tertulis di sana.
“Siapakah pemilik diary ini? Kakakmu? Adikmu?”
“Dia adalah kakak ku satu-satunya. Dia memang sangat mencintai puisi, bahkan aku sebagai adiknya pun kagum akan puisi-puisinya.”, ucapnya sambil tersenyum hambar. Kalau kamu ingin tahu tentangnya, bacalah halaman terakhir. Aku yakin, itu akan menjawab pertanyaan-pertanyaan di benakmu.
Astri memperbolehkanku membawa pulang diary itu. Aku pamit pulang dan berterima kasih sekali padanya.
***

Astri adikku,
Maafkan kakak ya. Kakak harus meninggalkanmu terlebih dahulu. Maaf kalau kakak tidak memberitahukan kamu tentang semuanya, sampai akhirnya kamu pasti kaget dengan kejadian yang begitu tiba-tiba ini. Namun kakak yakin, kamu pasti bisa menjaga dirimu dengan baik.
Dan sebagai permintaan terakhir, kakak berharap, kamu mau menyebarkan puisi-puisi ini. Karena kakak ingin menyebarkan cinta kepada semua orang. Bagaimanapun caranya, kakak ingin banyak orang bisa membaca puisi-puisi ini.
Salam sayang,
Andri, kakakmu.

Aku tertegun kaku. Tak terasa air mata menetes dan mengalir di pipiku. Aku membalik halaman sebelumnya, ada puisi terakhir di sana.

Dalam senyummu, ku tersenyum
Dalam bahagiamu, ku bahagia
Dalam hatimu, hatiku hidup
Dalam dirimu, kurasakan indah nya hidup

Untukmu yang takkan pernah kembali
Untukmu yang tak pernah jadi milikku
Untukmu yang slalu di hati
Untukmu ku persembahkan cintaku
140207
Aku merasa puisi terakhirnya itu, sangatlah sesuai dengan perasaanku. Anganku untuk bertemu pangeranku hilang tertiup angin.  Hatiku sedih dengan semua ini dan sepertinya cintaku tersangkut di buku.


***
Puisi yang terdapat di sana, tidak di ambil dari mana-mana. Dan benar-benar di tulis pada tanggal itu. Cerita ini hanyalah cerita fiksi, jika terdapat kesamaan sebagian cerita atau tempat, itu tidaklah di sengaja. Ini semua murni, dari kalimat di toilet itu.

7 comments:

Yofany said...

baguus :'(((

SweetGirl ♡ said...

ce.. critanya bagus >.<
sering2 buat cerpen ya hehe :)

Frachi said...

doyan bikin cerita ya ??
hehehe ^^

QEnt Kei said...

belom sempet baca... maap ya... hehe
tap[i bener klo toilet itu menghasilkan inspirasi...
soalnya tenang., hehe

a2i3s™ said...

toilet adalah tempat yang ajaib. bener banget Bell, xixixixi... gw juga biasa melahap berjilid-jilid buku di sana, hahahaha... btw, blum sempet mbaca cerpennya gpp ya, ntaran deh bawa lappie ke toil*t (_ _")

AkaneD'SiLa said...

wow...
amazing...
keren euy...
cerita en puisinya bener" bagus...
gudlak selalu deh...
lain kali lau buat cerita begini age cih au aku yach..
^^

btw toilet adalah tempat yang ajaib
aku setuju bangetz
aku aja lau dapet ide apapun pasti di toilet...
ckckck
aneh bin ajaib emang...

piNkkkkkkk said...

@yofany, janet, akane . terima kasihhh :)


@frachi . iah suka nulis2 :)


@qent, riz . ya ntar dibaca yaa :P